Selasa, 12 Mei 2026
lock
Iklan Header
Beranda / Berita / Oknum Wartawan Kerap Gentayangan dan Peras Kepala Sekolah, Ketua PWI Garut : Jangan Segan Laporkan, Ini Merusak Citra dan Marwah Profesi Jurnalis Secara Keseluruhan
DAERAH Kamis, 7 Mei 2026 - 05:45

Oknum Wartawan Kerap Gentayangan dan Peras Kepala Sekolah, Ketua PWI Garut : Jangan Segan Laporkan, Ini Merusak Citra dan Marwah Profesi Jurnalis Secara Keseluruhan

person Admin | visibility 1,111
Oknum Wartawan Kerap Gentayangan dan Peras Kepala Sekolah, Ketua PWI Garut : Jangan Segan Laporkan, Ini Merusak Citra dan Marwah Profesi Jurnalis Secara Keseluruhan

HARIANGARUT.NEWS - Kalangan guru di Kabupaten Garut tengah dipusingkan dengan sejumlah oknum yang datang ke sekolah dan mengaku sebagai wartawan. Pasalnya, mereka kerap melakukan intimidasi hingga berujung ke arah pemerasan dengan modus akan memberitakan masalah di sekolah tersebut jika tidak memberikan nominal uang tertentu.

 

Salah satunya dialami oleh seorang Kepala Sekolah Dasar di Kecamatan Kersamanah berinisial HM. Kepada hariangarut.news, ia bercerita oknum wartawan abal-abal ini sering datang sejak dua minggu lalu ke sekolah menanyakan perihal transparansi penggunaan dana BOS dan KIP di lingkungan instansi pendidikannya.

 

"Mereka ini datangnya berdua kadang rombongan kalau ke sekolah. Ngakunya dari media A, tapi yang saya tahu media itu enggak begitu familiar di Garut ataupun di nasional," kata HM saat berbincang dengan hariangarut.news, Kamis (07/05/2026).

 

Tadinya, guru-guru di sana mengira kedatangan rombongan oknum wartawan abal-abal ini hanya sekedar bersilaturahmi kepada pimpinan di sekolah. Namun lama-kelamaan, pembicaraan mereka malah melebar ke arah penggunaan dana BOS dan penerimaan KIP.

 

"Mereka ini sering datang ke sekolah, om, hampir tiap hari. Nah yang bikin kesel itu, mereka nuding ke sekolah kita udah enggak bener ngelola dana BOS. Padahal kalau mau jor-joran, tiap tahun laporan kita enggak pernah ada catatan dari pemda. Akhirnya bikin kesel ke kita juga, udah keterlaluan soalnya," beber HM.

 

Puncak kekesalan guru terjadi saat oknum wartawan abal-abal ini diduga telah melakukan pemerasan dan meminta uang satu juta rupiah ke sekolah. Uang tersebut diminta sebagai jaminan agar pengelolaan dana BOS di sekolah mereka tidak dipublikasikan ke media.

 

“Alasannya untuk kerjasama di media mereka supaya tidak dibuat berita yang soal BOS itu. Ngancemnya juga udah keterlaluan, om, suka cari masalah yang aneh-aneh. Bilangnya sekolah kurang transparan lah, kurang terbuka lah, kurang kooperatif lah. Uang itu kata mereka buat tutup mulut,” terangnya.

 

Meski sudah beberapa kali dihiraukan, namun oknum wartawan abal-abal ini kerap datang kembali ke sekolah dan mengancam akan mempublikasi pengelolaan dana BOS.

 

"Dia mintanya satu juta, tapi saya kasih 500 ribu. Ini bukti transfer juga ada. Makanya ini om, saya minta bantuan supaya kelompok-kelompok seperti mereka segera dintindak dan enggak meresahkan lagi," aku HM.

 

Terkait dugaan pemerasan, HM pun mengaku kerap mendapat keluhan dari rekan sejawatnya di sekolah lain. Meski tidak meminta nominal yang terlalu besar, namun kedatangan oknum wartawan abal-abal ini juga kerap meresahkan dan mengganggu kerja guru di sekolah.

 

"Pengennya mah bisa segera ditindak, apalagi yang parah-parah itu minta uangnya. Sudah meresahkan, sering banget gak tahu waktu datangnya juga. Enggak kita ladenin enggak enak juga ke mereka, namanya tamu. Tapi kalau diladenin, malah bikin kesel," pungkas HM.

 

Sementara, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Garut, Aep Hendy, mengutuk keras dugaan pemerasan yang diduga dilakukan oleh oknum wartawan terhadap Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang bertugas di Kecamatan Kersamanah.

 

“Saya mengutuk keras aksi itu (dugaan pemerasan), karena dapat merusak citra dan marwah profesi jurnalis secara keseluruhan,” ucap Ketua PWI Kabupaten Garut saat dikonfirmasi hariangarut.news.

 

Menurut Aep, seorang wartawan seharusnya menjalankan tugasnya sebagai pengemban informasi dan pendidikan publik, dan sesuai dengan kode etik jurnalistik (KEJ), yang mana di KEJ itu mengandung prinsip profesionalisme dan integritas nilai utama yang harus dijunjung tinggi dalam menjalankan profesinya.

 

"Jangan segan, jangan takut melapor jika merasa dirugikan oleh oknum wartawan yang diduga akan melakukan pemerasan, pemberitaan yang tidak akurat, tendensius, atau wartawan yang bertindak di luar etika profesi," ungkapnya.***

Bagikan:

forum Komentar

Tulis Komentar

Anda berkomentar sebagai Tamu

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan untuk artikel ini.

Iklan BJB