Ketika Mesin Bisa Menulis Berita, Apa yang Tersisa dari Jurnalis?
Oleh: Ridwan Mustopa, S.Sos.I, M.Sos, MCE, MOS
Jurnalis/ Dosen Ilmu Komunikasi
HARIANGARUT.NEWS - Bayangkan sebuah ruang redaksi tanpa suara ketikan wartawan. Tidak ada rapat liputan yang riuh. Hanya server yang bekerja tanpa lelah, menghasilkan berita setiap detik. Bagi sebagian orang, itulah masa depan jurnalisme di era kecerdasan buatan (AI). Cepat, efisien, dan murah. Tetapi pertanyaannya sederhana: jika mesin sudah bisa menulis berita, apa yang masih tersisa dari jurnalis?
Pertanyaan ini bukan lagi fiksi ilmiah. Hari ini, AI mampu menyusun laporan olahraga, merangkum pidato panjang, bahkan membuat artikel yang tampak “manusiawi”. Media digital berlomba mengadopsi teknologi ini demi mengejar klik dan algoritma. Di tengah euforia inovasi, ada satu hal yang sering luput: jurnalisme bukan sekadar produksi konten, melainkan praktik etika.
Antara Efisiensi dan Erosi Makna
AI menawarkan kecepatan yang memikat. Dalam hitungan detik, ia bisa menghasilkan ratusan paragraf. Bagi industri media yang tertekan oleh ekonomi digital, efisiensi ini terasa seperti solusi. Namun, ketika berita diproduksi oleh logika mesin, risiko yang muncul bukan hanya kesalahan teknis, tetapi juga erosi makna.
Berita yang terlalu cepat sering kali kehilangan konteks. Narasi menjadi datar, perspektif sosial menghilang, dan empati terhadap narasumber memudar. Jurnalisme berubah dari proses memahami realitas menjadi sekadar pengolahan data.
Jika tren ini dibiarkan, publik mungkin tidak lagi membedakan antara berita dan konten otomatis. Dan ketika batas itu kabur, kepercayaan terhadap media ikut tergerus.
Krisis Baru: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Deepfake yang semakin canggih memperparah situasi. Video yang tampak nyata bisa saja palsu. Suara yang terdengar otentik mungkin hanya rekayasa algoritma. Dalam situasi seperti ini, publik membutuhkan jurnalis lebih dari sebelumnya—bukan sebagai produsen konten, tetapi sebagai penjaga verifikasi.
Namun paradoks muncul: ketika media terlalu bergantung pada AI, siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan? Mesin tidak memiliki nurani. Ia tidak bisa meminta maaf, apalagi memahami dampak sosial dari sebuah berita yang keliru.
Selama ini, banyak orang mengira tugas utama jurnalis adalah menulis. Era AI membuktikan bahwa menulis bukan lagi monopoli manusia. Yang membedakan jurnalis sejati adalah kemampuannya membaca realitas: memahami konteks budaya, menangkap emosi publik, dan berani mempertanyakan kekuasaan.
Mesin bisa menyusun kalimat, tetapi tidak bisa merasakan ketidakadilan. Ia bisa merangkum data, tetapi tidak mampu membangun empati. Justru di tengah dominasi AI, kualitas manusiawi dalam jurnalisme menjadi semakin penting.
Sayangnya, tidak semua ruang redaksi menyadari hal ini. Beberapa media justru terjebak dalam perlombaan produksi konten cepat, seolah jumlah artikel lebih penting daripada kedalaman makna.
Masa Depan Jurnalisme Ditentukan Hari Ini
AI bukan ancaman jika digunakan sebagai alat bantu. Ia bisa mempercepat riset, membantu analisis data, dan membuka peluang storytelling baru. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada pilihan nilai yang diambil oleh industri media.
Apakah jurnalisme akan menjadi sekadar mesin produksi informasi? Atau tetap menjadi ruang refleksi publik yang kritis dan manusiawi? Jawaban atas pertanyaan itu tidak ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh keberanian redaksi dan jurnalis untuk menjaga integritas profesinya.
Pada akhirnya, mungkin mesin akan semakin pintar menulis berita. Tetapi satu hal yang tidak bisa diprogram adalah keberanian untuk mengatakan yang benar ketika kebenaran itu tidak populer. Dan selama keberanian itu masih ada, jurnalisme belum selesai. ***