Rabu, 19 Agustus 2026
lock
Iklan Header
Beranda / Berita / Cerita Unik Petugas SE 2026 di Garut Selatan, Jalan Terjal Menata Dinamika Ekonomi Negara
EKONOMI Selasa, 4 Agustus 2026 - 03:25

Cerita Unik Petugas SE 2026 di Garut Selatan, Jalan Terjal Menata Dinamika Ekonomi Negara

person Admin | visibility 133
Cerita Unik Petugas SE 2026 di Garut Selatan, Jalan Terjal Menata Dinamika Ekonomi Negara

HARIANGARUT.NEWS- Petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS) harus menempuh medan terjal dan menyusuri permukiman untuk mengumpulkan data yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan nasional. Pendataan ini mencakup berbagai skala usaha, dari usaha kecil hingga perusahaan besar, yang menjadi penggerak perekonomian nasional. Sensus Ekonomi 2026 diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika ekonomi di Indonesia.

 

Perjuangan para petugas untuk menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 pun begitu menarik. Mereka menemui ratusan orang, menggali cerita dan data, untuk bisa mendapatkan gambaran kondisi ekonomi terbaru.

 

“Saya turun ke lapangan jam 13.00 WIB, dan mendapat tugas menghimpun informasi ekonomi masyarakat menggunakan metode wawancara langsung,” ujar Hilman, S,S.I.Pust, petugas Sensus Ekonomi 2026 di Kampung Cipanganten, Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut.

 

Oboy begitu ia biasa disapa. Dalam sensus ekonomi kali ini, dia bertanggung jawab melakukan pengumpulan data sebanyak 490 responden atau Kepala Keluarga di delapan SLS Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu.

 

Menyusuri permukiman, demi mengumpulkan data, Oboy yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Cikarang, mengenakan rompi bertuliskan "Petugas Sensus Ekonomi" harus melewati jalan berbukit dan terjal untuk menjangkau rumah-rumah warga. Ia memulai pendataan menggunakan aplikasi digital FASIH yang digunakan BPS untuk pelaksanaan wawancara tatap muka.

 

Berdasarkan data, jumlah penduduk di Desa itu mencapai 5.790 orang. Oboy memanggul tanggung jawab mengumpulkan informasi dari 500-an muatan atau responden, yang tersebar di 8 rukun tetangga (RT).

 

Ada suka dan duka tentunya, ketika melakukan pengumpulan data di lapangan. Dia mengaku terkesan karena bersua dengan banyak orang yang memiliki aneka karakter. Hal itu, tuturnya, merupakan pengalaman yang luar biasa, yang diawali dengan berkomunikasi secara baik dengan masyarakat. Selain tantangan-tantangan seperti itu, ada juga tantangan lain yakni responden tidak menyampaikan data secara jujur.

 

"Pernah dalam satu pertanyaan ada dua jawaban yang berbeda dari pasangan suami isteri. Misal ketika bertanya terkait hasil panen jenis perkebunan, industri rumahan, holtikultura, dan lainnya. Si isteri menjawab hasilnya hanya puluhan kilo, sementara suaminya bilang mencapai kwintalan," ungkap Oboy sambil tersenyum, Selasa (03/08/2026).

 

Sebelum mengajukan daftar pertanyaan, dia lebih dahulu membangun komunikasi dengan menanyakan kabar serta aktivitas sehari-hari warga. Sensus Ekonomi 2026 dilaksanakan BPS untuk menghimpun data yang menjadi pijakan pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan pembangunan.

 

Sesuai prosedur, kata Oboy, responden yang enggan diwawancarai akan didatangi sebanyak tiga kali. Pada upaya terakhir, petugas akan didampingi oleh pihak Petugas Pemeriksa Lapangan (PML). Namun, jika warga yang menjadi responden itu enggan untuk diwawancarai, maka keputusan itu harus dihormati oleh petugas sensus.

 

"Sementara data hasil sensus tersebut padahal dapat dimanfaatkan pemerintah untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat, termasuk memetakan kebutuhan rantai pasok berbagai komoditas. Saya bersyukur kalau ketemu orang yang mengerti dan jujur menjelaskan. Tapi ada juga yang tidak jujur menyampaikan informasi tentang keluarganya. Padahal semua data-data itu kami jaga kerahasiaannya,” ujar Oboy.

 

Meski banyak suka duka yang ditemui di lapangan, dia mengaku tetap bersemangat berkontribusi sebagai pelaku sejarah Indonesia Mencatat.

 

Selain Oboy, ada juga Latif Muslim, salah satu pengawas lapangan dalam Sensus Ekonomi 2026, di Kecamatan Cisewu. Dia menyatakan sensus kali ini merupakan yang paling menantang, karena tidak hanya soal tugas untuk mengecek data yang telah dikumpulkan oleh para petugas lapangan, tetapi juga penerimaan masyarakat.

 

"Tantangan terbesar adalah meyakinkan masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam sensus ekonomi kali ini. Banyak faktor di lapangan yang membuat sulit para petugas," ujarnya.

 

Meski demikian, dia tetap berupaya menjalankan tugas sebaik-baiknya sebagai pengawas lapangan Sensus Ekonomi 2026.

 

"Tetap semangat, terutama untuk memastikan data yang telah di-submit oleh para petugas lapangan. Pelaksanaan sensus di lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan data yang dihimpun akurat sehingga dapat mendukung perencanaan pembangunan dan kebijakan ekonomi nasional," pungkas Latif.***(Igie)

Bagikan:

forum Komentar

Tulis Komentar

Anda berkomentar sebagai Tamu

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan untuk artikel ini.

Iklan BJB